
Untuk mempersiapkan diri menjadi guru berkualitas dibutuhkan paling
sedikit 10 kompetensi profesional yang kemudian dapat dirangkum
menjadi dua kompetensi utama yaitu penguasaan bahan pelajaran
dan dapat mengajarkan bahan tersebut secara jelas dan menarik.
Untuk membantu menerapkan kompetensi profesional itu di kelas, penulis
mengusulkan penggunaan pendekatan micro teaching
Kualitas guru sampai saat ini tetap menjadi persoalan yang penting (crucial ).
Menjadi persoalan yang crucial oleh karena pada kenyataannya keberadaan
guru di berbagai jenjang, dari Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah
Atas oleh sebagian kalangan dinilai jauh dari performa yang distandarkan.
Seorang Yohanes Surya (pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia atau TOFI
yang juga Guru Besar Universitas Pelita Harapan) pun melihatnya begitu.
Demikian juga dengan pendapat Dodi Nandika (Kepala Balitbang Depdiknas),Melalui artikel ini penulis ingin menyampaikan gagasan-gagasan yang
mungkin dapat berguna untuk meningkatkan kualitas guru di lingkup BPK
PENABUR. Seperti judul artikel, “Menyiapkan Guru Yang Berkualitas
dengan Pendekatan Micro Teaching”, maka pembahasannya difokuskan
pada beberapa pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana mempersiapkan diri
menjadi guru? Bagaimana kriteria guru yang berkualitas? Bagaimana konsepsi
micro teaching? Prasyarat apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan micro
teaching? Bagaimana aplikasi micro teaching? Adakah manfaat micro teaching
secara lebih luas? Seperti apa contoh rencana pelajaran micro teaching?Penerapan micro teaching tidak hanya terbatas pada tujuan mencari calon
guru yang dapat mengajar dengan baik dan upaya mendorong (encourage)
terhadap guru-guru untuk selalu meningkatkan performance-nya. Tetapi masih
dapat digunakan dengan tujuan-tujuan lain.
Pendekatan micro teaching dapat dimanfaatkan untuk mencari seorang
guru menjadi model dalam mengajar. Guru yang dijadikan model memang
sudah diakui keandalannya dalam mengajar. Namun demikian tidak harus
semua bidang studi ada seorang model guru. Tentukan bidang studi yang
dianggap harus ada guru model. Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk
mengajar tanpa kehadiran guru. Misalnya guru mengajar bidang studi x dengan
pokok bahasan y, proses mengajarnya direkam. Jika suatu saat guru itu
berhalangan, guru pengganti atau guru piket dapat memutar ulang rekaman
itu. Siswa tinggal melihat dan mendengarkan. Materi pengajaran yang
disampaikan dengan metode eksperimen, demonstrasi atau ceramah sangat
cocok.
Masih banyak manfaat lain dari kehadiran micro teaching, tergantung
daya kreatif dari orang-orang atau unit yang mendapat tugas untuk
mengelolanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar